Remy Sylado dan Karyanya

Drama merupakan salah satu dari genre sastra tradisional. Dalam hal ini, drama disandingkan dengan lirik dan epik (Wellek dan Warren, 1977: 19). Drama bersifat sastra, tetapi terdiri dari tontonan yang memanfaatkan keahlian aktor, sutradara, penanggung jawab kostum, dan ahli listrik (Wellek dan Warren, 1977:302).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (kemudian disingkat KBBI), terdapat tiga definisi tentang drama (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2005:275). Pertama, drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, drama adalah cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga, drama adalah kejadian yang menyedihkan.

Berpedoman pada KBBI pula, penelitian ini menggunakan istilah drama karena dianggap lebih tepat daripada istilah teater atau sandiwara. Alasannya, istilah teater dan sandiwara, dalam KBBI, dapat berarti gedung pertunjukan (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2005:1151 dan 993). Selain itu, sandiwara dapat pula berarti perkumpulan drama.

Secara etimologi, Hamsworth (via Soemanto, 2001:3) menerangkan bahwa kata drama berasal dari bahasa Prancis, yaitu drame. Kata ini diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah.

H.N. Brockett (via Soemanto, 12—13) mencatat bahwa ada tiga teori yang menerangkan tentang asal-mula drama. Teori pertama menyatakan bahwa drama bermula dari upacara-upacara religius untuk meminta pertolongan kepada dewa. Dalam upacara-upacara tersebut, para pendeta sering memerankan makhluk supraalami atau binatang. Teori kedua menyatakan bahwa drama bermula dari himne pujian yang dinyanyikan bersama di makam seorang pahlawan. Di sana, terdapat nyanyian koor dan peragaan dari perbuatan yang dilakukan oleh pembicara. Lama-kelamaan, keberadaan koor menjadi kurang penting sehingga digantikan oleh dialog-dialog yang pernah dilakukan almarhum dalam kehidupan yang diucapkan oleh pembicara. Teori ketiga menyatakan bahwa drama bermula dari kecintaan manusia untuk bercerita.

Drama merupakan sebuah kerja kesusastraan atau sebuah komposisi yang memperlihatkan kehidupan dan aktivitas manusia melalui penyajian bermacam aksi dari—sebuah dialog—sekelompok karakter-karakter (Reaske, 1966:5 dan Asmara, 1983: 9). Kerja-kerja kesusastraan tersebut nantinya akan dipertunjukkan. Akan tetapi, ada pula drama yang hanya dibaca dalam bentuk tulisan, yang disebut closet drama (Reaske, 1966:5 dan Asmara, 1983: 9). Akan tetapi, terks drama tersebut bisa saja sewaktu-waktu dipentaskan tanpa
sepengetahuan penulis drama.

Penelitian ini melihat drama bukan sebagai naskah, melainkan sebagai teks. Alasannya, naskah merupakan objek yang sudah selesai setelah mewujud dalam bentuk fisik, sedangkan teks tidak selesai setelah mewujud dalam bentuk fisik (Sudibyo, 1999: 54). Teks merupakan sebuah lintasan yang dapat menembus ruang dan waktu sehingga dapat melampaui sebuah naskah atau lebih (Barthes via Sudibyo, 1999: 54).

Sebelum dipentaskan, sebuah drama masih berbentuk teks. Teks drama, menurut Elaine Aston dan George Savonna dalam bukunya yang berjudul Theatre as Sign-System: A Semiotic of Text and Performance (via Soemanto, 2001: 3 dan 2002: 43), memiliki dua bagian, yaitu haupttext dan nebentext. Haupttext disebut juga teks utama yang berisi dialog dari tokoh-tokohnya. Nebentext disebut juga teks sampingan yang berisi petunjuk pementasan. Kedua bagian itu biasanya dapat dibedakan dengan melihat bentuk penulisannya, misalnya tulisan haupttext lebih menjorok ke dalam apabila dibandingkan dengan tulisan nebentext. Semua itu tergantung kepada pengarangnya.

Dalam teks drama 9 Oktober 1740, haupttext ditulis dengan menggunakan tanda petik. Penulisannya lebih menjorok ke dalam daripada nebentext. Penulisan haupttext menggunakan ukuran huruf yang lebih kecil daripada nebentext. Selain itu, haupttext menggunakan bentuk paragraf align left, sedangkan nebentext menggunakan bentuk paragraf justify.

Selain haupttext dan nebentext, drama 9 Oktober 1740 menggunakan catatan akhir dan catatan kaki. Catatan akhir digunakan untuk memberi keterangan terhadap nama tempat, tokoh, atau istilah tertentu di dalam teks. Catatan kaki digunakan untuk terjemahan istilah bahasa Belanda atau Cina dalam bahasa Indonesia (lihat pada lampiran I).

Salah seorang penulis drama Indonesia yang produktif adalah Remy Sylado (selanjutnya disingkat Remy). Ia sering memakai beberapa nama samaran ketika menjadi penulis. Selain Remy Sylado, nama samaran yang sering digunakan, antara lain Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, dan Jubal Anak Perang Imanuel.

Remy Sylado merupakan seorang seniman dan sastrawan yang andal. Semua itu dapat diketahui lewat riwayat hidupnya. Selain sebagai penulis drama, pria yang dilahirkan di Makasar, 12 Juni 1945 merupakan seniman yang serba bisa. Bakat seninya berasal dari kakek dan ibunya. Kakeknya merupakan seorang tentara yang menyukai seni, terutama seni musik. Kesukaan itu menurun kepada ibunya yang bernama Caterina. Walaupun sebagai seorang ibu rumah tangga yang hanya mengenyam sekolah desa selama tiga tahun, ia yakin bahwa ibunya mempunyai jiwa seni. Buktinya, istri Johannes Hendrikus Tambajong dapat menyanyikan lagu-lagu klasik, seperti The Messiah karya Handel, Ave Maria, dan masih banyak lagi (Indriani, 2006: 20—21).

Remy sejak duduk di bangku sekolah dasar sudah berprestasi di bidang seni. Waktu duduk di sekolah dasar (SD), juara lomba seni lukis tingkat SD se-Semarang pernah disandangnya. Kecintaannya kepada seni lukis berlanjut hingga perguruan tinggi. Selepas menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas
(SMA), pria yang bernama asli Japi Panda Abdiel Tambayong ini kemudian mendaftar di Akademi Kesenian Surakarta Jurusan Seni Rupa untuk memperdalam bakatnya di seni lukis.

Di dunia sastra dan pertunjukan, pendiri kelompok teater 23761 ini sangat terampil, baik sebagai pemain drama maupun sebagai penulis cerita. Ia sudah bermain drama sejak berusia empat tahun. Perannya menjadi domba di kandang natal sangat berkesan hingga sekarang. Saat tubuhnya bertambah besar, peran yang dimainkannya pun berubah, yaitu menjadi anak sapi (Hangguman, 2004:17). Ketertarikannya pada dunia seni peran menuntunnya untuk melanjutkan sekolah di Akademi Teater Nasional Indonesia.

Bakat kepengarangan Remy sudah terlihat sejak duduk di bangku SMP. Yang kala itu ikut andil mengasah kemampuannya mengarang adalah guru bahasanya. Ketika sang guru menugaskan murid-muridnya mengarang sepanjang satu halaman, penulis novel Ca-bau-kan ini mampu mengarang hingga empat halaman. Bahkan, hasil karangannya dibacakan di kelas-kelas lain.

Kepenulisan mantan Ketua Pusat Kebudayaan Bandung ini semakin terasah ketika dia berkarier sebagai wartawan. Pada 1965, Remy pernah menjadi wartawan di majalah Tempo di Semarang. Setelah itu, ia kemudian menjadi redaktur di majalah Aktuil Bandung dari 1972 sampai 1975. Di sana, dia sekaligus
menjadi redaktur pertama rubrik “Puisi Mbeling” (Hangguman, 2004: 17).

Baginya, sastra harus bisa memberikan penghiburan dan pengharapan kepada pembacanya. Karya sastra tersebut dapat dibuang ke tempat sampah apabila tidak memuat keduanya (Hangguman, 2004:17). Tugas seorang penulis sastra bukanlah sekadar membuat cerita, melainkan membuat dan menghadirkan gagasan pemikirannya. Baginya, pengarang tidak dapat menghadirkan gagasan pemikiran secara asal-asalan kepada pembaca. Untuk menghasilkan sebuah karya sastra, perlu dilakukan riset terlebih dahulu. Alasannya, jika ditulis tanpa riset, novel tersebut cenderung akan kering (Imran, 2003: 21).

Salah satu novelnya yang terkenal dan sempat difilmkan adalah Ca-baukan (Hanya Sebuah Dosa). Remy telah menghasilkan beberapa novel yang lain, seperti Kembang Jepun, Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata, Kerudung Merah Kirmizi, Menunggu Matahari Melbourne, dan Sam Po Kong. Selain itu, Remy menulis drama, seperti Siau Ling dan 9 Oktober 1740. Keduanya memiliki latar belakang sejarah yang kuat. Skripsi ini meneliti 9 Oktober 1740 yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2005.

Teks drama 9 Oktober 1740 bercerita tentang kisah percintaan antara Hein de Wit dan Hien Nio yang di dalamnya terdapat intrik politik, pengkhianatan, dan sentimen kebangsaan. Keistimewaan drama ini terletak pada penjelasan yang detail tentang tokoh dan tempat melalui catatan kaki, misalnya karakter Adriaan Valckenier dan tempat Zeedijk (lihat pada lampiran I). Selain itu, Remy Sylado juga menggunakan banyak bahasa dalam teks drama ini. Bahasa yang digunakan antara lain, bahasa Indonesia, Cina, Belanda, dan Jawa.

Tanggapan terhadap drama ini beragam. Di Fakultas Ilmu Budaya UGM, terdapat sebuah tesis yang membahas tentang teks drama 9 Oktober 1740 yang ditulis oleh Else Liliani. Ia menyimpulkan bahwa naskah drama ini berusaha menyajikan wacana antikolonial (Liliani, 2007: 178). Akan tetapi, wacana tersebut masih terhegemoni oleh wacana kolonial yang menekankan pada pejabat kolonial yang koruplah yang harus dipersalahkan, bukan setiap orang Belanda yang identik dengan penjajah. Selain itu, teks ini juga dianggap merefleksikan proses hibridisasi yang tidak mungkin ditolak.

Ada beberapa kritik yang bersifat nonformal yang ditulis lewat milis di internet terhadap karya-karya Remy Sylado. Ada yang memuji terhadap latar belakang sejarahnya, namun adapula yang mencela. Salah satu bentuk pujian mengatakan bahwa Remy Sylado mempunyai pengetahuan luas tentang berbagai macam hal, termasuk bahasa. Remy dengan lancar mencampur bahasa Indonesia, Belanda, dan Cina (http://sinarbulan.multiply.com). Hal itu disesuaikan dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat pada saat itu, yaitu bahasa Melayu rendah. Di sisi lain, kritikan ditujukan pada keterangan yang diberikan Remy Sylado. Beberapa data yang disampaikan dalam karya-karyanya dianggap fiktif (http://groups.yahoo.com).

Remy memang sering menulis cerita dengan menggunakan latar belakang sejarah. Kritik terhadap kebenaran sejarah dalam karyanya sering muncul. Akan tetapi, ia mempunyai jawaban sendiri tentang hal tersebut. Ketika ditanya perihal keberadaan novelnya sebagai bagian dari sejarah, Remy selalu menjawab bahwa ketika ada 12 orang sejarawan berkumpul, akan ada 14 pendapat (Imran, 2003: 21 dan Hangguman, 2004:17). Remy tidak berpretensi bahwa novelnya akan menjadi bagian dari sejarah. Baginya, sejarah hanya menjadi latar belakang cerita dan penceritaan. Hal itu tampak pada drama 9 Oktober 1740.

4 Comments

  1. james said,

    September 1, 2008 at 8:15 am

    tolong kasi tau tentang istilah-istilah drama pliiis

  2. Masgun said,

    January 8, 2009 at 5:25 pm

    Belum sempet. Kalo mau mudah baca aja di Disertasinya Eyang Bakdi Soemanto tentang Menunggu Godot… Udah dibukukan kok. Sekalian kenal ama salah satu dedengkotnya kritikus drama. Maaf ya….

  3. satryo said,

    January 10, 2009 at 6:22 am

    salam.
    nama saya satryo, saat ini saya sedang menjalani kuliah di fakultas psikologi universitas surabaya. saat ini saya sedang dalam masa penyusunan proposal penelitian sebagai salah satu syarat menempuh skripsi.
    penelitian saya akan mencoba untuk melkukan analisis terhadap puisi remy sylado, dalam proposal ini sya berusaha untuk menyertakan biografi/riwayat hidup dari remy syldao.
    saya telah membaca riwayat singkat remy sylado di dalam blog saudara. saya berterima kasih untuk itu.
    mungkin jika saya mempunyai permohonan, andaikata ada link tentang biografi lengkap mengenai remy sylado akan akan sangat-sangat berterima kasih, ataupun link utk berhubungan langsung dengan remy sylado.
    demikian saya mengucapkan terima kasih atas perhatian saudara.
    salam.

    • masgoen said,

      January 21, 2009 at 3:51 pm

      Saya sebenarnya juga kesulitan ketika mencari riwayat hidup dalam bentuk soft copy di internet. Riwayat hidup yang ada di dalam blog ini saya kutip dari wawancara di berbagai media cetak yang saya dapatkan di Perpustakaan HB Jassin.
      Saya hanya mengambil sebagian hal yang saya perlukan terutama untuk mendukung penelitian saya ini. Maaf jika kurang lengkap. Tadinya idealisme saya ingin mewawancarai langsung Remy Sylado. Berhubung berbenturan dengan waktu dan kepentingan yang lain, riwayat remy sylado hanya saya kumpulkan dari artikel-artikel yang pernah dimuat di surat kabar.
      Terima kasih atas tanggapannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: